Jangan Hargai Kami

aku tinggal di sebuah gang yang sunyi, hanya ada beberapa tetangga yang kami miliki.
sehari hari hanya aku, ibu, nenek dan bapak ditemani TV.

malam ini suasana sangat sunyi, lampu listrik sedang mati. kebetulan daerah kami sedang dapat giliran mati listrik.
beginilah konsekuensi tinggal di kota rantau, suasana bising, panas, susah air serta listrikpun harus mati bergantian.
tapi semua akan tetap dijalani demi sesuap nasi dan uang di dunia ini.

perasaanku kembali gelisah, aku dan kedua orang tuaku habis bertengkar seharian tadi, seperti hari hari biasanya, selalu terjadi keributan atas dasar ego yang tak saling bisa di fahami.
mereka selalu beranggapan bahwa aku susah di atur dan tak tau diri, serta tak jarang mereka menyama nyamakan aku dengan bapak kandungku yang tak ku tau ada dimana saat ini.
yang mereka katakan memang benar, tapi apa tak ada kata kata lain yang harus mereka ucapkan selain memaki aku seperti bapak kandungku, sifat dia memang tak pantas untuk seorang bapak, tapi apa boleh buat? dia memang bapakku. dia yang melahirkanku, walaupun tidak ikut membesarkan dan membiayaiku. aku sebenarnya tak pernah ingin terlahir dari orang seperti itu. namun pada kenyataannya ini jalan hidupku.
dadaku masih berdegub kencang, air mataku masih terus keluar walaupun aku berusaha tetap tersenyum bak anak durhaka yang siap menerkam ibu dan ayah tirinya.
aku segera bangkit dari alas tidurku yang hanya tilam lipat. aku bahkan bingung harus berbuat apa, berulang kali ku pukul pukul dadaku. berharap agar batu yang seolah mengganjal di dalamnya dapat hilang.
segera kutiup cahaya lilin di hadapanku, dengan penuh harapan agar kegelapan dan suara suara nyanyian jangkrik dapat melepas beban yang mengganjal didada.

***
jawa timur, 2004

siang ini semua murid SDN 02 bersorak riang saat mendapatkan pengumuman bahwa guru guru harus mengadakan rapat kenaikan kelas.
pak boni terlihat menghampiri dan memukul lonceng sekolah yang terbuat dari besi tua di gantung di depan kantor guru.
serentak semua anak berhambur keluar area sekolah yang terbuka tanpa ada pagar disekelilingnya.

aku, hadi yang duduk di kelas 4 bergegas pergi melewati teman temannya yang sibuk menunggu sahabat masing masing untuk pulang bersama.
aku sebenarnya jenuh berada di sekolah ini, teman teman yang kebanyakan tetangga jarang mau berteman denganku, ada yang takut sama bapakku lah, karena kelakuan dan suaraku yang kaya cewek lah. aku bahkan tak faham dengan fikiran mereka, aku takut berada di antara mereka, dan aku lebih nyaman sendiri, tanpa ada yang menghina dan menyakiti.

dari kejauhan aku melihat kondisi rumah yang sepi, "mungkin aku pulang terlalu pagi" batinku dalam hati.
memang jarang aku pulang jam 8 pagi, kecuali jika sedang hari bebas setelah ujian kenaikan kelas seperti ini.
"sepertinya ibu lagi ngojek" tambahku dalam hati sambil berjalan kepintu belakang lewat samping rumah dan tanpa sengaja aku seperti melihat seorang lelaki di ruang tamu. ku dekatkan wajahku ke jendela rumah yang terbuat dari kaca, dan seolah terkaget sepertinya ibuku sedang terlonjak ke kursi sofa di samping om somat.
om somat hanyalah orang lain dalam keluarga kami, dulu dia pernah datang kerumahku sambil marah marah, karena beliau bilang bapakku pernah pinjam hutang darinya, namun sampai saat ini tak kunjung dibayar.
sejak hari itu aku sering melihat om somat datang kerumah untuk menagih hutang, namun tidak marah marah tapi malah terlihat akrab dengan ibuku.
begitu juga seperti yang kulihat dibalik kaca saat ini.
bukan hanya om somat, tapi masih banyak teman teman bapakku yang akrab dengan ibuku.
ada pak sidik, om jefri ataupun om ridwan.
terkadang salah satu dari mereka juga sering menginap dirumah saat bapakku datang, karena aku beberapa kali melihat salah satu dari mereka keluar rumahku saat menjelang subuh.
aku terkadang kesal saat melihat bapakku, beliu pulang kerumah tak lebih sebulan 2kali, dan setiap bapak datang hanya untuk membuat ribut dan bertengkar dengan ibuku.
aku yang masih berumur 10 tahun terkadang merasa sedih dengan kehidupan ini. aku merasa belum pantas memanggul beban seberat ini, aku merasa belum pantas anak seumuranku harus melihat keributan dan perkelahian mereka, aku juga merasa tak mampu harus dikucilkan para tetangga. yang bahkan aku sendiri tak tau salahnya diriku apa.
"AKU INGIN DIHARGAI, aku ingin dianggap seperti anak anak lainnya" terkadang hatiku seperti menjerit jerit saat merasa bosan dengan kehidupan ini, aku bosan menangisi hidup.

aku sontak tersadar dari lamunan  panjangku, "sudah 10 tahun berlalu, kenapa aku masih se cengeng ini" aku kembali bertanya tanya pada diriku.
kenapa aku begitu lemah, dan kapan kehidupan ini berubah?
perlahan aku mulai bangkit dari alas tidurku, dengan meraba raba di kegelapan malam ini aku menuju kamar nenek untuk menceritakan semua kegelisahan dan bayang bayang imajinerku.
dengan sedikit tersengal sengal dan suara sedikit bergetar serta isakan aku menceritakan semua, terlihat bayang bayang cemas dari nenekku yang terkena pancaran redup lilin di kamarnya.
dia seolah tau apa yang aku ceritakan, namun hanya diam saja.
"aku capek nek kalo terus begini" ucapku parau.
yang kemudian nenek memelukku sambil menepuk nepukkan tangannya pada punggungku.
"ada beberapa hal yang tidak kamu tau had" timpa nenekku sambil berbisik pelan dalam pelukannya.
"apa? apa lagi?" tanyaku merasa ingin tahu, namun disisi lain aku takut jika nenekku menyimpan hal yang sebenarnya tidak ingin aku ketahui.
"sudah lama aku ingin bicara ini sama kamu"
"bicara aja nek, aku gakpapa" jawabku sambil melepas perlahan pelukannya.
"apa kamu sayang bapakmu?"
"kenapa nenek tanya begitu? bagaimanapun juga dia yang melahirkanku, jadi walau aku benci dengannya tapi aku tetap merasa lebih nyaman dengannya, dibanding dengan ayah tiriku"
"lalu apa kau benci dengan ibumu?"
"kalau aku benci dengan dia, tak mungkin aku sekarang disini mengikutinya nek, aku hanya tak suka melihat dia di jadikan boneka oleh suami barunya ini"
"hush! kamu gak boleh ngomong gitu, kamu harus tau kalau ibumu itu rela melakukan apapun demi kamu. kamu ingat dengan apa yang kamu ceritakan tadi? tentang kedekatan om somat, pak sidik, jefri dan ridwan? ibumu terlihat akrab dengan mereka, namun sebenarnya dia sangat membenci mereka" nenekku perlahan memelukku kembali, pelukannya lebih erat di banding yang tadi, bahkan aku pun menjadi bingung, ada apa dengan nenek?

"mereka mereka itu adalah orang yang meminjami bapakmu uang had" lanjut nenek dengan nada yang mulai bergetar menahan amarah, dia masih memeluk tubuhku erat.
"aku tau itu nek" jawabku singkat
"mereka selalu datang untuk menagih uangnya, namun bapakmu sulit untuk membayar hutang itu, sampai sampai ibumu harus berusaha seakrab mungkin dengan mereka" nenek melepaskan pelukan lalu memegang kedua pundakku. dia menatapku seperti orang yang siap menerkamku. ada setetes air mata di sudut kelopaknya.
"jadi ibu harus mengakrabkan diri agar mereka tidak marah marah saat menagih hutang?" aku masih terus bertanya tanya
"bukan hanya itu, bahkan kenyataannya lebih buruk dari yang kamu fikirkan, ibumu tak sebatas mencoba akrab dengan mereka. namum ibumu memang harus bertindak seakrab mungkin, karena bapakmu membayar hutangnya dengan menjual ibumu pada mereka" nenek ku kemudian terdiam, titik titik air mata di ujung kelopaknya sekarang mulai mengalir.
sedangkan aku masih terdiam menatap nenekku lekat lekat.
dadaku kembali bergetar dan terasa ada yang menyumbat di dalamnya.
aku ingin berteriak untuk mengeluarkan sesuatu yang seperti menyumbat dadaku ini. tapi mulutku tak mampu berbuat apa apa.
"dan sekarang? ibumu disini menjadi boneka seperti yang kamu bilang, semata mata bukan karena dia bodoh atau pun tergila gila dengan bapak tirimu, namun dia melakukan ini atas dasar pengorbanannya untukmu, dia ingin kau sekolah tinggi, dia ingin agar kau tak hidup susah lagi, dia ingin agar kita bisa berteduh dan makan. hanya dengan jalan inilah dia bisa mendapatkan ini semua, hanya dengan bertindak bodoh dan menginjak injak harga dirinya" pandanganku mulai kosong, aku merasa bodoh dan tak ada gunanya.
otakku terlalu gelap dengan ego dan keras kepala. sampai aku tak tau pengorbanan ibuku menghancurkan masa depannya.
air mataku kembali keluar, dada dan nafasku makin tersengal sengal
aku merasa tak percaya dengan arti kehidupan ini.
"apa ini rasanya di hargai? apa ini rasanya di terima orang lain? dianggap ada oleh tetangga? di pandang sebagai manusia? tapi harus mengorbankan masa depannya, masa depan orang yang melahirkan dan merawatku. AKU SUDAH TAK BUTUH DI HARGAI, aku ingin sendiri"

"apakah semua yang berharga selalu ada nominalnya? andai aku tau akhirnya seperti ini, aku tak pernah merasa ingin dihargai, aku lebih baik di rendahkan dari pada bahagia karna menukar harga diri. jangan pernah hargai kami, karena kehidupan kami tak seharga nominal di bumi ini"

1 komentar:

hidup ini perjalanan.
dan tulisan adalah kenangan

apa yang kamu coretkan, itulah yang akan selalu di ingat oleh setiap orang.